Suahasil Nazara

“Kita (pemerintah) mengharapkan ketiga faktor utama ini (intervensi kesehatan, anggaran yang fleksibel dan reformasi struktural) dapat berperan dan dapat memastikan bahwa APBN akan menjadi kunci pengendalian pandemi serta pemulihan ekonomi”

 

Pada awal tahun 2020, prospek perekonomian Indonesia cukup menjanjikan. Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan Indonesia dalam Seminar Indonesia Economic Outlook 2021 (08/02), menjelaskan bahwa World Economic Outlook memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia berada di sekitar angka 3,3%, tetapi kemudian ekonomi dunia menjadi sangat parah hanya dalam waktu sekitar empat bulan. Suahasil mengatakan pada bulan April, World Economic Outlook memproyeksikan ekonomi dunia akan berkontraksi dari positif 3% menjadi minus 3%. Artinya, hanya dalam waktu empat bulan, terdapat penurunan sekitar 600 basis poin, bahkan penurunan itu berlanjut hingga bulan Juni. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa sedari awal pemerintah menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi akan terpengaruh oleh pandemi COVID-19. 

Pemerintah memperkirakan bahwa pandemi COVID-19 akan menurunkan konsumsi, investasi, dan ekspor impor. Menurut Suahasil, apabila terjadi penurunan ketiga hal tersebut, yang menjadi penting adalah bagaimana pemerintah mengelola perekonomian, ia mengatakan bahwa pengeluaran pemerintah harus menjadi penopang bagi berbagai kelompok ekonomi. Suahasil memaparkan bahwa anggaran pemerintah berubah dari yang semula defisit 1,76% menjadi defisit 6,09%. Artinya, anggaran pemerintah berjalan cukup sulit, Suahasil menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena kontraksi ekonomi biasanya membawa pajak yang lebih rendah dan akan menyebabkan pendapatan pemerintah menjadi lebih rendah, namun di sisi lain pengeluaran pemerintah tidak bisa turun karena harus menangani pandemi. Kondisi yang bertolak belakang ini membuat anggaran pemerintah pada bulan Desember tahun 2020 mengalami defisit 6,09%.

Suahasil juga menjelaskan bahwa pemerintah telah bekerja keras untuk memastikan bahwa anggaran dapat mengatasi permasalahan akibat pandemi dengan mengubah anggaran menggunakan cara yang sangat luar biasa pada pertengahan tahun 2020. Selain itu, ia mengatakan bahwa pada tahun ini realisasi belanja APBN akan meningkat yaitu dari Rp2.589,9 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp2.750 triliun pada tahun 2021. Menurutnya, dari data pertumbuhan ekonomi dan defisit fiskal Negara G-20 dan ASEAN, dapat dilihat bahwa dari segi kontraksi ekonomi dan defisit fiskal, Indonesia masih tergolong moderat. Hal ini dibuktikan dengan perbandingan antara pertumbuhan ekonomi dan defisit fiskal Indonesia dengan negara lain yang memiliki pertumbuhan ekonomi lebih rendah dan defisit fiskal yang lebih tinggi. Beberapa contohnya adalah Filipina dan Singapura yang berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi di angka 9,5% dan 5,8% pada kuartil keempat tahun 2020. Apabila pertumbuhan ekonomi dikaitkan dengan kematian akibat COVID-19, maka Suahasil menjelaskan bahwa jumlah korban jiwa di Indonesia tergolong rendah apabila dibandingkan dengan negara G-20 dan ASEAN, hal ini terjadi karena pemerintah telah berusaha melindungi masyarakat dari krisis kesehatan COVID-19. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa pemerintah harus betul-betul memanfaatkan momentum tersebut dengan baik untuk masuk ke tahun 2021.

Untuk tahun 2021 sendiri, Suahasil menyatakan bahwa pemerintah terus melanjutkan pemulihan ekonomi dengan proyeksi perumbuhan sebesar 4,5%5,3%. Suahasil memaparkan bahwa terdapat tiga faktor utama sebagai framework kebijakan pemulihan ekonomi pada tahun 2021. Faktor utama yang digunakan sebagai framework kebijakan pemulihan ekonomi adalah intervensi kesehatan, meliputi vaksin, vaksinasi, dilanjutkan dengan 3M dan 3T dari protokol kesehatan, dan intervensi lainnya. Faktor utama yang kedua adalah anggaran yang fleksibel, anggaran yang fleksibel ini diperuntukkan menjadi perlindungan sosial yang akan membantu kelompok terbawah dan rentan di Indonesia. Selain itu, Suahasil menjelaskan bahwa anggaran utang juga akan dibuat menjadi fleksibel untuk memastikan bahwa sektor usaha baik usaha mikro, kecil, maupun menengah dan besar dapat terus berlanjut selama pandemi ini dan mencari kemampuan untuk bertahan hidup hingga vaksinasi sukses dilakukan. Faktor utama yang ketiga adalah reformasi struktural, Suahasil mengatakan bahwa bertahan dari pandemi saja tidak cukup, dengan bertahan dari pandemi pemerintah juga harus melakukan reformasi struktural sehingga ketika ekonomi pulih, Indonesia dapat memiliki platform kerja baru. Ia menambahkan bahwa sebagian besar reformasi struktur akan dilaksanakan melalui Undang-Undang Cipta Kerja. Suahasil berharap bahwa ketiga faktor utama ini dapat berperan dan dapat memastikan bahwa APBN akan menjadi kunci pengendalian pandemi serta pemulihan ekonomi.

Suahasil mengatakan bahwa pemerintah akan terus melihat angka-angka dari beberapa indikator agar dapat memastikan memastikan bahwa pemulihan ekonomi dapat berjalan dengan lancar di Indonesia. Pemerintah berharap agar pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat berkisar antara 4,5% hingga 5,3% pada tahun 2021 dan Suahasil mengatakan bahwa hal ini cukup sejalan dengan proyeksi institusi internasional untuk Indonesia pada tahun 2021. Selain membahas mengenai review perekonomian Indonesia pada tahun 2020 dan pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun 2021, Suahasil juga mengapresiasi konsistensi Indonesia Economic Outlook dan komitmen FEB UI untuk menyediakan platform diskusi bahkan di saat masa pandemi, ia berharap Seminar IEO’21 dapat menjadi platform yang baik bagi masyarakat dan pembuat kebijakan untuk membahas pemulihan ekonomi nasional. 

Ditulis oleh: Alif Ihsan A Fahta (Staff Divisi Seminar dan Forum IEO’21)