Indonesia dalam Bayang-Bayang Resesi: Penetapan Suku Bunga Acuan Terendah dan Bauran Kebijakan Moneter Lainnya

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 berada pada kisaran minus 4% hingga 4,8%. Angka tersebut tidak terpaut jauh dengan prediksi yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II minus 5,32%. Bayang – bayang jurang resesi turut menghantui perekonomian Indonesia, terutama setelah sejumlah negara seperti singapura, Korea Selatan, Hongkong, Jerman, hingga Amerika Serikat resmi mengumumkan bahwa negaranya telah masuk ke dalam jurang resesi. Guna mengantisipasi dampak dari resesi ekonomi, Gubernur Bl, Perry Warjiyo, mengungkapkan pemerintah dan BI telah bersinergi mempersiapkan sejumlah formula kebijakan, terutama di sektor moneter dan finansial.

Sejauh ini, BI mencatat bahwa sektor eksternal ekonomi Indonesia mampu resisten di tengah melemahnya perekonomian global. Sepanjang triwulan II-2020, defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah dan terjaga serta terjadi peningkatan foreign portfolio investment sebesar 10,2 miliar dolarAS. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2020 juga meningkat menjadi 131,7 miliar dolar AS dengan pembiayaan 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar secara fundamental tetap terkendali meskipun terdepresiasi ke level 2,28% per 15 Juli 2020 .

Dari sisi domestik, BI memastikan kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai tetap terjaga dan mengalami pertumbuhan uang kartal Rp744,9 Triliun atau meningkat sebesar 2,34% (year on year). Selain itu, perkembangan laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk Juni 2020 tercatat cukup rendah, pada angka 0,18% (month to month) atau 1,96% (year on year). Walaupun tingkat inflasi rendah dan mendukung stabilitas perekonomian, hal ini turut mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat mengalami penurunan signifikan. Di sisi lain, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) tetap terjaga, meskipun risiko dari dampak meluasnya penyebaran COVID-19 terhadap SSK akan terus dicermati oleh B!.

Menyikapi kondisi tersebut, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 15-16 Juli 2020, Bl mengumumkan penurunan suku bunga acuan atau Bl 7-Day Reverse Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4%. Sebelumnya, pada periode Januari – Juni 2020, BI secara bertahap telah menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin (bps) atau 0,75% dari angka 5% hingga 4,25%. Penetapan suku bunga acuan pada Angka 4% ini merupakan rekor suku bunga terendah sepanjang sejarah RI sejak BI menerapkan BI 7-Day Reserve Repo Rate sejak menggantikan Bl rate pada tanggal 19 Agustus 2016 . Kebijakan penurunan suku bunga acuan BI7DRR juga diikuti dengan menurunkan suku bunga fasilitas simpanan (deposito facility) sebesar 25 bps menjadi 3,25% dan menurunkan suku bunga pinjaman (lending facility) 25 bps menjadi 4,75%. Keputusan Bl ini konsisten dengan prediksi inflasi yang tetap rendah, kondisi stabilitas eksternal yang tetap terjaga, dan sebagai langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19.