Panel Discussion

“Perlu adanya kerjasama antara pencari kerja, pemberi kerja, dan kementerian sebagai regulator dalam membuat suatu sistem pasar kerja yang terintegrasi demi memudahkan menyampaikan kebutuhan pasar kerja pada calon pekerja ”

Pandemi Covid 19 membuat tantangan bagi generasi muda Indonesia bertambah, selain mereka harus bersaing dengan angkatan kerja diatasnya, mereka juga dihadapkan pada situasi baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Dalam Panel Diskusi Seminar Indonesia Economic Outlook 2021 (08/02) yang moderatori oleh Nitia Anisa, dan diikuti oleh beberapa panelis, yaitu Hariyadi Sukamdani (Ketua APINDO), Rasyid Amir (Plt. Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan), Dini Widiastuti (Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia), dan Turro Selrits Wongkaren (Kepala Lembaga Demografi FEB UI).

Dalam diskusi tersebut dikatakan bahwa pandemi ini membuat ekonomi stagnan bahkan resesi, perusahaan menahan diri untuk mempekerjakan orang baru. Lapangan pekerjaan semakin sulit dicari, sedangkan pencari pekerjaan semakin bertambah. Kurangnya pengalaman dari anak-anak muda membuat mereka kalah persaingan dalam pasar tenaga kerja. Perusahaan tentu akan memprioritaskan mereka yang memiliki pengalaman kerja lebih dengan tingkat pengupahan yang sama. Masalah baru pun timbul, pandemi membuat angka pernikahan dini meningkat sebagai akibat tidak adanya lapangan kerja serta banyaknya orang yang putus sekolah. Mereka tidak memiliki kegiatan dan memutuskan untuk menikah muda. Kementerian Ketenagakerjaan memberikan solusi dengan melakukan sembilan lompatan yang pada intinya berfokus pada pengurangan birokrasi dan membuat sistem pencari kerja yang nantinya bisa dihubungkan dengan para pengusaha. Tidak hanya itu mereka juga memiliki balai latihan bagi para calon pekerja untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Permasalahan terbesar adalah ketersediaan lapangan tenaga kerja, akibat banyaknya pencari kerja tidak semuanya bisa terserap. Secara tidak langsung anak muda akan terdorong untuk menjadi entrepreneur karena terbatasnya lapangan kerja yang ada. Namun tidak semua orang bisa menjadi entrepreneur dan hal ini tidak bisa dipaksakan. Perlu adanya penilaian individu secara psikologis untuk mengetahui apakah seseorang memang cocok untuk menjadi entrepreneur dan berdasarkan penilaian tersebut Kementerian Ketenagakerjaan baru dapat membantu dengan memberikan kelas/pelatihan yang sesuai dengan keinginan orang tersebut.

Adanya stigmatisasi dan pengelompokkan generasi menjadi gen Z dan milenial tidak sepenuhnya benar. Pengelompokkan tersebut tidak menggambarkan ciri khas yang ada di Indonesia, seperti tidak betah di satu perusahaan dalam jangka waktu yang lama, lebih suka pekerjaan yang fleksibel, maupun keinginan untuk memberi dampak yang besar pada lingkungan sekitarnya. Hal yang ingin digarisbawahi adalah terlepas dari stigmatisasi generasi dan ciri khasnya, setiap generasi memiliki tantangannya tersendiri. Maka dari itu, anak-anak muda diharapkan bisa menyesuaikan dan beradaptasi dengan tuntutan pasar tenaga kerja dan dunia usaha saat ini. Anak-anak muda dapat memulai menekuni suatu bidang, meningkatkan keterampilan yang dimiliki baik itu hard skill maupun soft skill. Maka dari itu anak muda harus dapat mengenali diri mereka sendiri serta mengetahui apa yang sebenarnya ingin dicapai. Jika kita ingin membentuk sumber daya manusia Indonesia yang semakin unggul, anak muda Indonesia harus dapat memanfaatkan waktu yang dimiliki sebaik mungkin dengan mengikuti pelatihan, kegiatan positif, dan sebagainya.

Ditulis oleh: Amartya Krisna Permana (Senior Staff Divisi Seminar dan Forum IEO’21)