Muhammad Lutfi

 “I’m pretty sure that we will reach the 6.3% growth goal for trade and because of that Indonesia will be very active in opening new markets and Indonesia also very active attracting investment

Kalimat optimis tersebut merupakan pernyataan yang dilontarkan oleh Muhammad Lutfi, Menteri Perdagangan Republik Indonesia saat memberikan inaugural speech di Indonesia Economic Outlook 2021 National Seminar (08/02). Ia menjelaskan pemulihan ekonomi di masa pandemi dapat ditopang melaui dari sisi perdagangan Indonesia. Dimulai dari ekspor Indonesia yang pada tahun 2020 mencapai USD 163,3 miliar, angka ini terdiri dari migas sebesar USD 8,3 miliar (kontraksi 29,54% dari tahun 2019) dan non-migas sebesar USD 155 miliar (kontraksi 0,58% dari tahun 2019). Impor Indonesia sendiri secara keseluruhan mengalami kontraksi 17,54%. Angka ini berasal dari penurunan angka impor yang cukup besar, yang awalnya USD 171,3 miliar pada tahun 2019 menjadi USD 141,6 miliar pada tahun 2020. Perubahan tiap komponen impor terdiri dari kontraksi migas sebesar 34,86% (koreksi dari USD 21.9 miliar ke USD 14.3 miliar) dan kontraksi non-migas sebesar 14,74% (koreksi dari USD 149,4 miliar menjadi USD 127,3 miliar). 

Neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2020 ini memang mengalami surplus sebesar USD 21,7 miliar. Surplus ini pula menjadi yang tertinggi sejak tahun 2012. Akan tetapi, ada yang tidak biasa dengan angka surplus ini. Kondisi ini harus diwaspadai karena terdapat penurunan besar pada angka impor, jika dibandingkan dengan angka ekspor. Oleh karena itu, hal ini dapat dipelajari lebih lanjut dan dijadikan perhatian dalam rangka melejitkan ekonomi Indonesia. 

Muhammad Lutfi menjelaskan mengapa perdagangan dan sektornya sangat penting. Jika melihat dari komposisi PDB Indonesia yang diambil dari data BPS, konsumsi di tahun 2020 berkontribusi sekitar 58,96% terhadap keseluruhan komponen PDB. Angka ini tumbuh dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 57,93%. Jika konsumsi mengalami kenaikan, investasi malah mengalami penurunan dari 32,35% di tahun 2019 menjadi 31,73% di tahun 2020. Begitu pula dengan kontribusi ekspor dan impor di PDB Indonesia yang tahun ini juga mengalami penurunan kontribusi.

Konsumsi merupakan komponen yang sangat penting dan harus dijaga demi pertumbuhan ekonomi yang baik. Dilihat dari PDB Indonesia 20192020 per komponen yang bersumber dari rilis BPS, konsumsi mengalami penurunan dari awalnya sebesar 5,04% di tahun 2019, melemah menjadi 2,63% di tahun 2020. Konsumsi (nonprofit) turut terkoreksi dari 10,02% pada tahun 2019 menjadi 4,29% pada tahun 2020. Pengeluaran pemerintah masih di angka positif, tetapi tetap mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Indikator kunci dari konsumsi domestik ini adalah konsumsi ritel, yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengalami koreksi sebesar 12,03% dan impor barang jadi yang juga terkoreksi sebesar 10,93%. Angka tersebut tidak terlalu penting, tetapi cukup bisa menandakan bahwa ekonomi Indonesia mengalami perlambatan.

Komponen investasi juga mengalami kontraksi sebesar 4,95% dengan indikator kunci terdiri dari domestic cement sales turun sebesar 10,38%, domestic sales of automobile for capital goods di angka 41,83%, dan import of capital goods terkoreksi sekitar 16,73%. Jadi dari angka investasi ini, digabungkan dengan sektor industri yang jatuh 2.93% dan memiliki beberapa sektor penting terdiri dari LNG production yang turun sekitar 6,63%, automobile production yang juga jatuh di angka 46,73%, motorbike production terkoreksi sebesar 40,21%, dan cement production disebutkan di angka 9.26%. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di kondisi yang tidak terlalu baik.

Muhammad Lutfi menyinggung mengenai mengapa barang impor dengan kualitas bagus penting bagi perekonomian Indonesia. Impor barang baku sendiri mencakup 72,9% dari keseluruhan struktur impor Indonesia di tahun 2020. Barang baku ini memegang peran penting di bidang industri karena berkontribusi dalam proses penciptaan lapangan kerja, yang berujung pada peningkatan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Barang modal menyumbang 16,7% dan sisanya adalah impor barang jadi sebesar 10,4%. Angka-angka ini penting karena kualitas barang impor sangat penting sebagai pilar dari ekonomi kita.

Dari sisi ekspor, 10 besar negara tujuan meliputi 66,19% atau hampir ⅔ dari total keseluruhan ekspor Indonesia. Negara tersebut adalah China, USA, Jepang, India, Singapura, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand. China dan USA adalah negara yang penting karena kedua negara ini adalah tujuan utama ekspor Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia memiliki surplus USD 11,13 miliar untuk USA dan defisit USD 9,42 miliar dengan China. Kesepuluh negara ini sebetulnya sedang di tahap recovery dari pandemi COVID-19. China, Singapura, dan Malaysia berhasil mengatasi pandemi dengan baik. USA diperkirakan di bulan April atau Mei sudah akan melakukan vaksinasi 300 juta warganya. Jepang diprediksi akan kembali kuat di bulan Mei. India memang dicatat buruk pada masalah transmisi COVID-19, tetapi tracing dan testing-nya sangat bagus sehingga angka kasus sudah mulai turun. Dari kesepuluh negara, mungkin hanya Filipina dan Thailand yang penanganannya tidak terlalu bagus dibanding negara lainnya. Sedangkan di level 20 besar negara tujuan ekspor, atau mencapai 80,51% dari total ekspor Indonesia, terdapat pula negara yang dapat mengatasi COVID-19 dengan baik seperti Taiwan dan Australia. Belanda, Jerman, dan Swiss saat ini sedang closing down, tetapi vaksin segera tersedia di negara tersebut. Negara yang mungkin mengkhawatirkan dari 20 besar tersebut adalah Pakistan dan Bangladesh. 

Jika diurutkan berdasarkan besaran barang yang diekspor Indonesia, 10 besarnya mencapai 59,8% dari keseluruhan produk, 20 besar sebesar 79,8%, dan 30 besar sekitar 88,7%. Indonesia sudah bertransformasi dari yang awalnya menjual barang mentah, menjadi penjual barang industri dengan teknologi tinggi. Misal barang terbanyak ketiga yang diekspor oleh Indonesia, besi dan baja (USD 10,85 miliar) merupakan produk yang diinvestasikan oleh Indonesia lima tahun terakhir. Hampir 70% besi dan baja diekspor ke China. Hal inilah yang disebut sebagai perdagangan internasional. Ketika indonesia membeli baja dalam jumlah banyak dari China, tetapi di waktu yang sama juga mengekspor ke China.

Selanjutnya, produk otomotif yang merupakan produk ekspor terbesar keenam (USD 6,6 miliar) pernah mengalami investasi mobil Jepang besar-besaran di tahun 2010 hingga 2013. Merek kendaraan seperti Toyota, Nissan, Mitsubishi, dan Daihatsu menggandakan kapasitas produksinya. Dengan investasi yang ada di Indonesia, sebenarnya dapat dibuat suatu tren yang dapat memicu terbukanya pasar yang besar di Indonesia. Pasar ini berpotensi untuk mengundang investor dan menjadikan Indonesia sebagai sentra produksi yang bisa menjadi pilar ekspor Indonesia.

Masa depan Indonesia memiliki banyak potensi di luar bidang minyak dan gas. Produk ekspor terbesar kelima, perhiasan, dengan nilai USD 8,22 miliar, dibutuhkan keahlian tinggi untuk memproduksi dan menyimpan nilai yang tinggi untuk masa depan Indonesia. Dengan importir terbesar yaitu Singapura, Swiss, dan Hongkong, dapat diketahui bahwa perhiasan diekspor ke negara transit, bukan ke tujuan akhir. Hal ini agak disayangkan mengingat Indonesia sebenarnya masih bisa memberikan nilai tambah untuk perhiasan dan mungkin bisa menjual langsung ke negara pembeli di waktu yang mendatang. Minyak sawit mentah menjadi produk terbanyak yang diekspor oleh Indonesia. Produk ini menyumbang USD 20,72 miliar.

Pertumbuhan ekspor Indonesia 20192020 (yoy) ke beberapa wilayah tumbuh dengan baik seperti Amerika Utara 3,51%. Eropa Barat 17,07%, Eropa Timur tumbuh hampir 10%, kawasan Asia Timur 4,01%, dan Afrika Timur mengalami pertumbuhan lebih dari 8%. Sedangkan terdapat pula koreksi di kawasan sekitar ASEAN 9,69%, Afrika Selatan hampir 3%, dan Amerika Selatan sebesar 6,07%. 

Indonesia telah membuka pasarnya dengan cara bernegosiasi dan beradaptasi dengan negara lain. Indonesia memiliki perjanjian dengan berbagai negara, seperti Australia, Chile, Korea, Uni Eropa, Turki, Mauritius, Maroko, dan masih banyak lagi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah arus perdagangan. Selain itu, perjanjian juga disahkan agar perdagangan bisa berjalan dengan aman. Selama COVID-19 ini, terdapat 37 kasus yang berasal dari 14 negara. Kasus tersebut terdiri dari 24 kasus anti dumping dan 13 kasus safeguard. Pada dasarnya, Indonesia sedang bertransformasi menjadi salah satu produsen paling efektif. Indonesia memiliki teknologi tinggi dengan pabrik-pabrik baru di wilayah yang akan mentransfer dirinya sendiri. Muhammad Lutfi mengungkapkan bahwa ia cukup yakin Indonesia akan mencapai target pertumbuhan untuk perdagangan sebesar 6,3%. Indonesia akan sangat aktif dalam membuka pasar baru dan menerima investasi awal karena investasi adalah hal penting dalam perdagangan.

Ditulis oleh: Sofia Chandra (Staff Divisi Seminar dan Forum IEO’21)