Real: Indra Darmawan

“Dengan adanya UU Cipta Kerja, pemerintah berharap dapat melakukan perbaikan di berbagai sektor yang terkait juga dengan perizinan perusahaan agar dapat menolong adanya investasi dan pada akhirnya mencetak tenaga kerja”

 

Masyarakat berharap bahwa tahun 2021 akan menjadi tahun yang merubah keadaan menjadi normal kembali, harapan ini datang dari adanya program vaksinasi, tetapi ternyata program vaksinasi ini tidak berjalan dengan lancar karena berbagai permasalahan, salah satunya adalah permasalahan distribusi vaksin. Indra Darmawan, Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro BKPM dalam Seminar Indonesia Economic Outlook 2021 (08/02) mengatakan bahwa Indonesia akan memvaksinasi 181 juta orang dalam 12 sampai dengan 15 bulan. Namun ternyata kapasitas vaksinasi yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia hanya berjumlah 68 ribu per hari. Oleh karena itu, Indra mengatakan bahwa vaksinasi untuk sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan tugas yang cukup berat bagi pemerintah, sehingga masyarakat pun menyadari bahwa jalan menuju keadaan yang normal kembali menjadi cukup berliku dan perlu mendapat perhatian yang besar.

Indra memaparkan bahwa di berbagai belahan dunia, ada banyak negara yang menerapkan kebijakan seperti Indonesia, yaitu melakukan lockdown atau memilih untuk menghentikan lockdown. Ia menjelaskan bahwa ketika negara-negara seperti Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat melakukan lockdown, maka GDP negara tersebut akan turun, namun setelah lockdown dihentikan, GDP negara tersebut akan tumbuh kembali. Untuk Indonesia sendiri, Indra mengatakan bahwa IMF pada awalnya memproyeksikan bahwa GDP Indonesia dapat mencapai angka 6,1%, namun akhirnya direvisi menjadi 4,8%. Menurutnya, besarnya rentang proyeksi dari berbagai macam institusi dan seringnya revisi membuktikan bahwa masih banyak ketidakpastian seperti vaksinasi, virus, maupun pandemi. Oleh karena itu, Indra mengatakan bahwa jalan menuju pemulihan setelah pandemi hanya jelas untuk beberapa negara seperti China dan Vietnam, grafik GDP China dan Vietnam sendiri dapat digambarkan seperti huruf V. Tidak seperti China dan Vietnam, Indra menggambarkan bahwa pertumbuhan GDP Indonesia seperti logo Nike, yaitu turun dan naik dengan perlahan. Namun, ia juga menambahkan bahwa pola yang terjadi di Indonesia juga dapat diprediksi menjadi seperti huruf K, karena ada beberapa sektor yang naik dan juga ada beberapa sektor yang turun, salah satu sektor yang naik adalah sektor teknologi, dan beberapa sektor yang turun adalah sektor pariwisata dan penerbangan. 

Apabila melihat angka Purchasing Manager Index secara global pada bulan Desember tahun 2020, Indra memaparkan bahwa apabila suatu negara berada di atas angka 50, maka negara tersebut sedang mengalami fase ekspansi, dan apabila berada di bawah angka 50, maka negara tersebut sedang mengalami fase kontraksi. Indra menjelaskan bahwa Indonesia berada di perbatasan antara dua hal tersebut, terakhir Indonesia berada pada angka 52,2. Karena itu ia mengatakan bahwa sudah ada harapan apabila dibandingkan dengan Q2 2020 yang pada saat itu PMI Indonesia berada hanya pada angka 28. 

Untuk investasi sendiri, Indra menyampaikan bahwa United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) memproyeksikan bahwa global Foreign Direct Investment (FDI) akan turun sampai 30% hingga 40%, namun pada realisasinya ternyata hingga angka 42%, UNCTAD sendiri menggunakan metode stock and flow yang berbeda dengan pengukuran investasi BPS dan BKPM. Dengan perhitungannya, UNCTAD melihat bahwa Indonesia secara global mengalami penurunan FDI hingga 24% pada tahun 2020. Indra mengatakan bahwa negara-negara maju mengalami penurunan FDI yang lebih besar daripada negara-negara berkembang. 

Indra mengatakan bahwa GDP Indonesia diperkirakan tumbuh dalam rentang 4%6% oleh berbagai ahli, namun pemerintah sendiri memproyeksikan GDP Indonesia akan tumbuh dalam rentang 4,5%5,5% di tahun 2021. Indra memaparkan bahwa dari data pertumbuhan pengeluaran untuk konsumsi, yang paling tinggi adalah pengeluaran pemerintah, hal ini ditujukan agar pemerintah dapat menopang perekonomian Indonesia. Pembentukan modal tetap bruto sendiri masih berada dalam angka 6,15%, dengan komponen yang paling besar adalah di sektor kendaraan pada Q4 2020. Oleh karena itu, Indra mengatakan bahwa dari data BPS, investasi di Indonesia masih belum berada dalam kondisi baik. 

Pertumbuhan ekonomi di daerah mengalami penurunan, kecuali di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Indra mengatakan karena dua daerah ini sangat intens untuk memproses natural resources, terutama nikel. Ia menjelaskan bahwa kedua daerah ini masih mengalami pertumbuhan ekonomi yang masih positif sampai Q3 2020. Apabila dilihat dari data penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang dihitung oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal, Indra memaparkan bahwa PMA dan PMDN hanya berkontribusi sebesar 16,4% dari keseluruhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). 

Indra mengatakan bahwa terdapat kenaikan angka PMA dan PMDN pada tahun 2020 dari bulan Januari-Desember (yoy) sebesar 2,1%, sehingga target realisasi investasi mencapai Rp826,3 triliun, angka ini melebihi target pada tahun 2020 yaitu Rp817,2 triliun. Ia mengatakan bahwa yang paling menarik adalah pada tahun 2020, PMDN (50,1%) menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan PMA (49,9%) dan untuk pertama kalinya realisasi investasi di luar Pulau Jawa (50,5%) menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi investasi di Pulau Jawa (49,5%). Indra menjelaskan bahwa hal tersebut dapat terjadi karena program-program infrastruktur di luar Pulau Jawa digenjot sangat aktif dan masif oleh pemerintah selama lima tahun ke belakang. Ia menambahkan bahwa jumlah tenaga kerja yang diciptakan adalah 1.1 juta dari 153 ribu proyek pada tahun 2020. 

Dari data realisasi investasi pada tahun 2020, Indra memaparkan bahwa Singapura menjadi negara yang memiliki investasi terbesar di Indonesia, disusul dengan Tiongkok, Hongkong, dan Jepang. Berdasarkan sektor-sektor yang merealisasikan investasinya, Indra menyampaikan bahwa sektor transportasi, gudang, dan telokomunikasi menempati urutan pertama pada PMDN, diikuti dengan konstruksi. Untuk PMA, yang tertinggi adalah industri logam dasar yang gencar sekali dilakukan di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Berdasarkan lokasi, ia menjelaskan bahwa hanya Provinsi Riau yang menempati lima besar PMDN selain provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa. Sedangkan untuk PMA, berdasarkan lokasi terdapat 2 provinsi yang cukup besar yaitu Maluku Utara dan Sulawesi Tengah. 

Indra mengatakan bahwa untuk meningkatkan investasi dan sektor riil, pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan, seperti perbaikan harga tanah, tarif air, tarif gas, rata-rata upah minimum, rata-rata tingkat kenaikan upah, dan tarif listrik. Indra juga menambahkan bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih menjadi ICOR tertinggi di kawasan, yaitu pada angka 6,8. Sebab itulah ia mengatakan bahwa pemerintah berharap dapat melaksanakan Undang-Undang Cipta Kerja yang saat ini sudah sampai pada tahap finalisasi untuk implementasinya. Implementasinya sendiri terdiri dari 49 rancangan peraturan pemerintah dan 5 rancangan peraturan presiden. Dengan adanya UU Cipta Kerja, Indra mengatakan bahwa pemerintah berharap dapat melakukan perbaikan di berbagai sektor yang terkait juga dengan perizinan perusahaan. Menurutnya, perizinan perusahaan harus dipermudah agar dapat menolong adanya investasi dan pada akhirnya mencetak tenaga kerja. Selain itu, Indra juga menambahkan bahwa ada beberapa hal lagi yang harus diperbaiki oleh pemerintah yaitu Global Competitiveness Index dan Ease of Doing Business Index

Ditulis oleh: Alif Ihsan A Fahta (Staff Divisi Seminar dan Forum IEO’21)