Bambang Brodjonegoro

Dalam kesempatan Seminar Indonesia Economic Outlook 2021, Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D selaku Menteri Riset dan Teknologi memaparkan materi dalam Inaugural Speech terkait kondisi ekonomi dari sisi perspektif digital dan kesehatan di Indonesia. Mengawali pemaparannya, Bambang menjelaskan bahwa pandemi membuat ekonomi indonesia mencatatkan pertumbuhan negatif pertamanya sejak tahun 1998 (—2,07% Q4 2020). Pertumbuhan negatif yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh krisis global tetapi juga karena adanya pandemi COVID-19. Keadaan ini tidak hanya terdapat di Indonesia tapi juga terjadi di berbagai negara lain. Pengalaman ketika menghadapi flu spanyol cukup berbeda karena pada saat itu, ekonomi masih cukup independen dan tertutup sedangkan saat ini ekonomi yang ada sudah lebih terbukan dan terdapat interelasi antarnegara. 

Diantara seluruh faktor, satu-satunya sektor yang bertumbuh adalah agrikultur. Akan tetapi, sektor manufaktur yang merupakan kontributor terbesar PDB termasuk ke dalam salah satu sektor dengan pertumbuhan negatif sebesar 2 – 3%. Sektor media dan telekomunikasi memang memiliki porsi yang kecil di dalam PDB namun pertumbuhannya relatif sangat tinggi. Hal ini menjunjukkan bahwa sektor ini merupakan keperluan dasar manusia. Kebutuhan jaringan yang baik ketika kita tidak bisa bertemu secara langsung dan beralih ke dunia virtual yang membuat sektor telekomunikasi semakin kuat. Porsi ekonomi Indonesia di kancah internasional menjadikan dampak yang terjadi di negara ini tidak separah seperti apa yang terjadi di negara-negara big economy. Oleh karena itu, menurut Bambang, kita harus dapat menjadikan momen ini manjadi momentum transformasi. Transformasi ini dapat dimulai dari motivasi internal kita untuk mendukung inovasi karena Indonesia masih cukup rendah, yaitu peringkat ke-85 di dunia dalam hal inovasi. Tiga kategori yang harus ditingkatkan dalam rangka mendukung inovasi yaitu kecanggihan bisnis, modal sosial, dan riset 

Fokus inovasi indonesia adalah digital economy. Fokus ini dipilih karena kita harus mengakselerasi transformasi digital dan mencanangkan “Less Contact Economy” dengan membuat ekonomi lebih mudah dengan adanya bantuan teknologi. Lebih lanjut hal ini didukung oleh hyperconnectivity yang tidak lagi secara fisik namun menggunakan Information and Communication Technology (ICT). Dalam banyak kesempatan, Indonesia mulai menerapkan ICT dengan munculnya e-commerce dan mobile banking. Namun, kita harus tetap mengembangkan digitalisasi ke sektor yang lebih beragam seperti kebutuhan dasar, edukasi, dan kegiatan sosial lainnya. 

Kesiapan Indonesia dalam menghadapi Dunia Digital Pasca Pandemi

Lebih lanjut Bambang menjelaskan bahwa jika meninjau kesiapan Indonesia dalam menghadapi dunia digital terutama pasca pandemi, kita harus menguatkan komunitas bisnis. Kesadaran akan pentingnya digitalisasi memang sudah ada namun implementasi yang berlangsung masih terbatas. Hal ini terjadi karena perusahaan masih belum memandang biaya riset dan pengembangan menjadi suatu hal yang penting. Salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan kesadaran para pelaku bisnis untuk meningkatkan biaya riset dan pengembangan yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan mengenai super tax deduction sebesar hampir 300% bagi perusahaan yang ingin berinvestasi di bidang riset dan pengembangan. 

Strategi Pengembangan Transformasi Digital

Berdasarkan penjabaran diatas, dapat dikatakan bahwa masih perlu adanya perbaikan dalam bidang infrastruktur dengan menggandeng perusahaan-perusahaan ini. Termasuk di dalamnya memperbaiki lebih lanjut terkait jaringan, satelit, pusat data, yang akan digabungkan menjadi suatu sistem yang kohesif. Menurut Bambang, sistem ICT di Indonesia juga masih perlu dibenahi.untuk mendukung itu, Indonesia harus mempunyai modal sosial yang kuat dan adopsi teknologi khususnya artificial intelligence, IoT, big data, dan lain-lain. 

Saat ini, Indonesia harus lebih berhati-hati dalam sektor kesehatan. Indonesia perlu untuk menjadi lebih independen di masa yang akan datang jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam enam bulan terakhr, Indonesia berhasil membuat lebih dari 60 produk kesehatan seperti PCR test kit, GeNose, ventilator, BSL2, dan masih banyak lagi. Terakhir menutup pemaparannya, Bambang menjelaskan bahwa Indonesia perlu untuk menjadi independen dalam produksi vaksin. Saat ini, Indonesia masih mengimpor vaksin namun di masa yang akan datang, untuk 270 juta penduduk, kita harus memastikan bahwa produksi vaksin tidak hanya di impor dan dilakukan oleh PT Biofarma tetapi peneliti Indonesia juga harus bisa melakukan riset dan pengembangannya sendiri menggunakan berbagai macam platform. Selain itu, sektor swasta dan Biofarma dapat mendukung dengan  memformulasikan, memproduksi dan mendistribusikannya.

 

Key Takeaways : “ Pandemi akan terjadi lagi, namun kita tidak tahu kapan. Sektor Kesehatan dan Digital Transformation menjadi jawaban dan antisipasi atas munculnya pandemi yang baru”