Opening Remarks: Airlangga Hartarto

“Pemerintah selalu membutuhkan kerjasama dari seluruh pihak terkait terutama akademisi agar dapat memastikan proses implementasi kebijakan-kebijakan yang telah dibuat berjalan dengan baik.”

Memasuki tahun 2021 topik mengenai pemulihan ekonomi dikala pandemi masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan terutama ketika Indonesia digadang-gadang mengalami pemulihan ekonomi yang baik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, dalam National Seminar Indonesia Economic Outlook 2021 (08/02) yang mengangkat tema “Post-Pandemic Recovery: A Resurgence of  Economy”, Dr. Ir. Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T. selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Indonesia Maju dalam sambutannya mewakili Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan bahwa momentum saat ini dapat menjadi media evaluasi kondisi perekonomian dan menjadi juga sarana diskusi terkait berbagai kebijakan untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi.

Airlangga mengawali pemaparan dengan menjelaskan sejumlah data terkait kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Pada akhir tahun 2020, sinyal pemulihan ekonomi telah muncul seiring kontraksi ekonomi sebesar 2.19% di kuartal ke 4 dan sebesar 2.07% secara keseluruhan di sepanjang tahun yang mana sedikit lebih baik dibandingkan banyak negara di dunia. Perekonomian Indonesia diprediksi juga dapat membaik sebesar 4.55,5% seiring dengan membaiknya perekonomian global di tahun 2021. Jika meninjau kegiatan ekonomi Indonesia, saat ini konsumsi didominasi oleh konsumsi domestik dan menunjukkan tren meningkat dari manufaktur sebesar 52.2% bersamaan dengan indeks kepuasan konsumen yang juga meningkat. Selain itu, pilihan masyarakat untuk menggunakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga cenderung meningkat dari waktu ke waktu menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan di tengah masayarakat. Dalam waktu bersamaan, terjadi peningkatan investasi di dalam negeri seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia. Ditambah lagi, indikator lain juga menunjukkan adanya peningkatan kearah positif seperti Jakarta Composit Index, Rupiah Exchange Rate, meningkatnya harga komoditas yang memberikan Indonesia keuntungan berupa surplus neraca perdagangan sebesar Rp2.121,7 miliar. Fenomena ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2011.

Langkah Strategis Pemerintah dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Menurut Airlangga, pemulihan ekonomi Indonesia sudah berada dalam jalan yang benar. Pemerintah dinilai akan terus berkomitmen untuk melakukan mitigasi untuk menanggulangi pandemi COVID-19. Dengan adanya kondisi pandemi ini, kita akan mengambil keuntungan yang tercipta melalui momentum yang ada dalam rangka pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Sebagai wujud aksi nyata komitmen tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah sudah menyiapkan beberapa strategi untuk mengakselerasi pemulihan dan reformasi struktural yang meliputi beberapa fokus. Pertama, pemerintah akan fokus pada pemulihan kepercayaan konsumen dengan mengurangi restriksi microbusiness dan juga mempercepat vaksinasi bagi masyarakat. Vaksinasi akan diberikan secara gratis dalam rangka mencapai herd immunity 182 juta penduduk yang ditargetkan selesai pada akhir tahun 2021. Kedua, pemerintah akan meneruskan dana penanganan dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Alokasi anggran yang dikeluarkan oleh pemerintah mencapai Rp619.383 triliun dengan enam prioritas yang sama meliputi intervensi kesehatan, perlindungan sosial, dana dukungan untuk UMKM, dan juga perhatian pada penyerapan lapangan kerja. Serta yang ketiga, reformasi struktural yang difokuskan oleh pemerintah diwujudkan melalui pengaplikasian UU No. 11 Tahun 2020 terkait UU Cipta Kerja. Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah menjanjikan implementasi dari undang-undang ini akan menciptakan iklim yang lebih efisien, mudah, dan pasti.

Harapan Pemerintah akan Keberlangsungan UU Cipta Kerja

Dalam konteks meningkatkan  investasi, Airlangga menyertakan bahwa pemerintah telah menerbitkan kebijakan yang inklusif bagi seluruh sektor bisnis sebagaimana telah tercantum di dalam undang-undang. Pada saat bersamaan, undang-undang ini juga tetap melindungi dan mendukung perkembangan UMKM. Disamping itu, pemerintah juga menawarkan insentif fiskal dan nonfiskal bagi investor agar tertarik untuk berinvestasi dalam sektor bisnis yang menjadi prioritas. Selain iklim bisnis dan UMKM, pemerintah saat ini juga telah membentuk Indonesia Investment Authority (INA) sebagai bentuk komitmen terhadap investor melalui alternatif pembiayaan untuk menjamin kepastian hukum bagi investor global yang telah menunjukkan ketertarikan dan komitmen seperti US GBCI, CPP Kanada, dan APG Belanda dengan akumulasi LOI 9.2 billion USD.

UU Cipta Kerja, menurut Airlangga, memberikan fasilitas perlindungan, insentif, dan menyediakan pendanaan yang mendukung keberlangsungan UMKM. Seperti yang dapat diketahui bahwa UMKM memberikan sumbangsih yang besar bagi perekonomian Indoneia. Seiring dengan dibentuknya undang-undang ini, diharapkan dapat membuat iklim yang lebih bersahabat bagi perkembangan UMKM.

Saat ini, pemerintah tengah mengimplementasikan UU Cipta Kerja yang terdiri dari 49 Peraturan Pemerintah dan 5 Peraturan Presiden. Tindak lanjut dari peraturan ini diharapkan dapat membantu stakeholder terkait dalam mengimplementasikan UU Cipta Kerja ini. Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah juga akan mempersiapkan regulasi dalam skala kementerian dan juga institusional dengan sosialisasi dan komunikasi kepada masyarakat dalam rangka mempersiapkan sistem dan infrastuktur termasuk online single submission (OSS) dan human resource yang akan menjadi OSS system operation dan supervisor. Seluruh usaha ini diharapkan dapat bermuara dalam peningkatan investasi dan menyerap lapangan pekerjaan.

Sebagai penutup, Airlangga memaparkan bahwa usaha pemilihan perekonomian Indonesia akan terus berjalan. Pemerintah selalu membutuhkan kerjasama dari seluruh pihak terkait terutama akademisi agar dapat memastikan proses implementasi kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dapat berjalan dengan baik. Sinergi dan koordinasi dari kebijakan ekonomi akan mengakselerasi pemulihan ekonomi dan secara bersamaan juga dapat melakukan kapitalisasi momentum untuk transformasi ekonomi.

Ditulis oleh: Ratu Silfa Addiba Nursahla (Senior Staff Divisi Seminar dan Forum IEO’21)